Kamis, 28 Juni 2012

Indra Pendengaran

Nama                          : Nurhalimah             Nama Asisten             : Hana
Npm                            : 15511349                  Paraf  Asisten            :
Tanggal Pemeriksa   : 7 Juni 2012

 
LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL




I.                   Percobaan                                          : Indra Pendengaran                                                   Nama Percobaan                               : 1. Percobaan Rine
Nama Subjek Percobaan                  : Nurhalimah
Tempat Percobaan                            : Laboratorium Psikologi Faal

a.      Tujuan Percobaan                : Untuk membuktikan bahwa
trasmisi melalui udara lebih baik daripada tulang.
b.      Dasar Teori                            : Ada 2 macam tes rinne , yaitu :a.
Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya
b. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne :
1) Normal : tes rinne positif
2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama)
3) Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :
a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala.
b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)
c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus.
c.       Alat yang Digunakan            : Garputala
d.      Jalannya Percobaan             : Terdapat 2 garputala, yang pertama
benturkan garputala lalu tempelkan ke atas kepala setelah getaran abis pindahkan ke depan telinga. Lalu yang ke dua benturkan garputala lalu letakan kebelakang telinga lalu setelah getarannya selesai pindahkan kedepan telinga.
e.    Hasil Percobaan                     : Hasil yang petama setelah  terletak
terdapat suara, sedangkan yang kedua dari belakang telinga lalu kekuping tihak terdapat suara.hasil sebenarnya :
1. suara nada garputalayang sudah tidak terdengar ketika diletakan dipuncak kepala, masih tetap terdengar ketika garputala itu ditempatkan digerbang telinga.
2.       suara nada garputala yang sudah tidak terdengar ketika di tempatkan di belakang telinga, masih tetap terdengar ketika garputala itu di tempatkan di gerbang telinga.
          a. semakin besar garputala maka makin beraat suaranya.
          b. garputala dan telinga sejajar maka hantaran suarannya bagus.
          c. pada orang tua, elastisitas membrane kurang bagus, sehingga indra pendengarannya kurang berfungsi dengan baik.
          d. membrane thimpany menggetar malleus, incus, sapes sehingga terdengar suara.
f.       Kesimpulan                                    :  Ada 3 interpretasi dari hasil tes                                                           rinne :                                                                                        1) Normal : tes rinne positif
2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama)
3) Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :
a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala.
b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul.
g. Daftar Pustaka                                          : Neeya_koizora. 2009. Pemeriksaan                                                   Audiometri,
Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N, Aritomoyo, D,.  (2010). Diagnosis Kekurangan   Pendengaran.
Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard, E.R. (1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.

Nama Percobaan                             : 2. Tempat Sumber Bunyi                                             Nama Subjek Percobaan                  : Nurhalimah                                                             Tempat Percobaan                               : Labolatiriun Psikologi Faal
a.    Tujuan Percobaan                    : Untuk menentukansumber bunyi.
b.   Dasar Teori                              : Telinga merupakan tempat reseptor
 reseptor pendengaran dan alat untuk keseimbangan terletak . Suara merupakan gelombang mekanik yang rambatannya memerlukan mediu0000 Hz . Telm / zat perantara , misal udara , air , dan benda padat . Manusia dapat mendengar suara pad frekuensi antara 20-20000 getaran per detik ( Hz ) dan tidak dapat mendengar suara di bawah 20 Hz dan di atas 20000 Hz . Telinga terdiri dari :
1.      Telinga luar
Terdiri atas aurikel atau pinna ( daun telinga ) , dan mediusaudiotorius externa ( liang telinga luar ) yang menjorok kedalam menjauhi pinna , serta menghantar getaran suara menuju membrane timpani ( gendang telinga )
2.      Telinga tengah
Atau rongga timpani : adalah bilik kecil yang mengandung udara . Bagian dari telinga tengah adanya tiga tulang telinga , yaitu :
a. Tulang martil ( maleus / hammer )
berbentuk martil dengnan ganggang yang terkait pada membran timpani , sementara kepalanya menjulur kedalam ruang timpani .
b. Landasan ( inkus / anvil )
c. Sanggurdi ( stapes / sirrup )
3. Telinga dalam
Di temukan tingkap jorong yang berupa selaput , rumah siput ( koklea ) , dan saluran gelung . Rumah siput ( koklea ) adalah saluran spiral yang terdiri dari atas skola vestibule ( di bagian dorsa ) , skala media ( bagian tengah ) dan skala tympani ( bagian ventral ) , serta berisi cairan perilimf dan permukaan dalamnya merupakan tempat bermuara saraf . Ujung saraf tersebut peka terhadap getara yang ditimbulkan oleh cairan tersebut . Proses penghantaran suara dapat melalui berbagai medium , yaitu :
a. Penghantaran udara
b. Penghantaran suara melalui tulang
c. Penghantaran tulang telinga tengah
Berkaitan dengan proses pendengaran , kita mengenal beberapa teori , yaitu :
1.      Teori resonansi dan teori tempat
Serabut – serabut dalam membrane basalis dapat disamakan dengan dawai – dawai dan alat musik . Dawai – dawai ini bermacam – macam panjangnya , serta beragam pula frekuensi nadanya . Teori resonansi berbunyi bahwa dawai – dawai akan turut bergetar apabila ada getaran yang masuk . Dawai – dawai yang bergetar biasanya berfrekuensi sama . Dengan demikian teori ini memandang bahwa sebenarnya serabut – serabut itu terlapis satu sama lain , seperti halnya dawai pada gitar .
2. Teori percobaan rine
3. Teori mengenal sumber bunyi
Bunyi yang datang dari suatu sumber yang ada didalam bidang meridian yang melalui tubuh manusia dan terdapat dimuka , diatas , ataupun dibelakangnya akan mencapai telinga dalam waktu bersamaan . Apabila sumber bunyi berada disebelah kiri , maka telinga kiri yang dahulu mendengarnya . Oleh karena itu timbul kesan bahwa sumber bunyi itu datang secara terus menerus pada waktu yang sama pada kedua tellinga kita , kita akan kesulitan menentukan sumber bunyi .
Suara adalah sensasi yang di hasilkan bila getaran longitudinal molekul-molekul dari lingkungan luar, yaitu fase pemadatan dan perengganan dari molekul-molekul yang silih berganti mengenai membran timpani. Telinga mengubah gelombang suara dari luas menjadi potensial aksi nervus
b.   Alat Yang Digunakan           : Pipa Karet
c.    Jalannya Percobaan              : Letakkan pipa karet kedalam
telinga kanan dan kiri, lalu ditekan bagian mana saja dan baru ketahui letak ditekan.suara itu.
d.   Hasil Percobaan                     : Saya menebak 1. Kiri 2. Kanan 3.
  Kanan, hasil sebenarnya : 1. Kiri 2.                Tengah 3. Kakan.                             
  Hasil sebenarnya Pipa karet :
1.      Jika masih bias membedakan kanan dan kiti berarti normal.
2.      Membedakan bagian yang tengah sangat sulit.
e.    Kesimpulan                            : Bila pendengar mendengar lebih
keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan, disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya.
f.     Daftar Pustaka                      :  NN. (2007). Si Penyebab Kepala
Berputar. http://www.majalah-farmacia.com/. 06 Maret 2010. 16.39.

Neeya_koizora. 2009. Pemeriksaan Audiometri,

Miyoso,  D.P,.           Mewengkang L.N, Aritomoyo,  D,.  (2010). Diagnosis Kekurangan Pendengaran. 
        
Nama Percobaan                            : 3. Ketajaman Pendengara                                             Nama Subjek Percobaan                : Nurhalimah                                                                Tempat Percobaan                            : Labolatiriun Psikologi Faal
a.    Tujuan Percobaan                : Untuk memeriksa ketajaman
  pendengaran.
b.   Dasar Teori                            : Telinga merupakan tempat reseptor
– reseptor pendengaran dan alat untuk keseimbangan terletak . Suara merupakan gelombang mekanik yang rambatannya memerlukan mediu0000 Hz . Telm / zat perantara , misal udara , air , dan benda padat . Manusia dapat mendengar suara pad frekuensi antara 20-20000 getaran per detik ( Hz ) dan tidak dapat mendengar suara di bawah 20 Hz dan di atas 20000 Hz . Telinga terdiri dari :
1. Telinga luar
Terdiri atas aurikel atau pinna ( daun telinga ) , dan mediusaudiotorius externa ( liang telinga luar ) yang menjorok kedalam menjauhi pinna , serta menghantar getaran suara menuju membrane timpani ( gendang telinga )
2. Telinga tengah
Atau rongga timpani : adalah bilik kecil yang mengandung udara . Bagian dari telinga tengah adanya tiga tulang telinga , yaitu :
a. Tulang marti( maleus / hammer ) b. Landasan ( inkus / anvil )     c.Sanggurdi ( stapes / sirrup )
3. Telinga dalam
Di temukan tingkap jorong yang berupa selaput , rumah siput ( koklea ) , dan saluran gelung . Rumah siput ( koklea ) adalah saluran spiral yang terdiri dari atas skola vestibule ( di bagian dorsa ) , skala media ( bagian tengah ) dan skala tympani ( bagian ventral ) , serta berisi cairan perilimf dan permukaan dalamnya merupakan tempat bermuara saraf . Ujung saraf tersebut peka terhadap getara yang ditimbulkan oleh cairan tersebut . Semua ujung saraf bersatu membentuk saraf pendengaran. Cairan yang bergetar menstimulasi ujung – ujung saraf . Impuls ujung saraf diteruskan ke pusat pendengaran di otak besar . Otak besar menerima impuls dari ujun saraf . Lalu menerjemahkannya dan mempersepsikannya sebagai suara. Proses penghantaran suara dapat melalui berbagai medium , yaitu :
                                             a. Penghantaran udara
                                           b. Penghantaran suara melalui                                                     tulang
                                            c. Penghantaran tulang telinga                                                                tengah
c.    Alat Yang Digunakan           : Arloji, jam/stopwatch dan meterab
d.   Jalannya Percobaan              : Pertama stopwatch diletakan ke
depan telinga lalu dengarkan suaranya dan dijauhkan secara perlahan hingga terdengar suaranya.
e.    Hasil Percobaan                     : Percobaan pertama yaitu telinga
sebelah kana berjarak sampai 75 cm. sedangkan yang kedua samapi berjarak 45 cm.
Hasil ssebenarnya 1. Sangat di pengaruhi dengan kebisingan, 2. Rata-rata diatas 50 cm, 3. Biasanya telinga kanan lebih jauh daripada telinga kiri.
f.       Kesimpulan                            : Nada selain dihantarkan melalui
udara , dapat juga dihantarkan melalui tulang , yang pada percobaan ini adalah tulang tengkorak . Tapi penghantar suara yang paling baik adalah udara . Sedangkan ketajaman pendengaran dapat dipengaruhi oleh kebisingan ruangan dan beberapa intensitas bunyi yang di persengar .Selain itu sumber suara dapat diketahui tempatnya . Sumber itu akan diyatakan disebelah kiri bila jrak antara sumber itu lebih dekat dengan telinga .
g.    Daftar Pustaka                      :  Bagian Laboratorium Fakultas
Psikologi Universitas Ahmad Dahlan . 1997 . Buku Pedoman Praktikum Psikologi Fa’al II . Yogyakarta : Fakultas Psikologi Univrsitas Ahmad Dahlan
Evelyn , C. Pearce . 2000 . Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis . Jakarta : PT. Gramedia
Guyton and Hall . 1997 . Fisiologi Kedokteran . Jakarta : CV. EGC

II.                Percobaan                                        : Keseimbangan                                                                Nama Percobaan                               : 1. Percobaan kedudukan kepala dan
                                                                               mata normal            
Nama Subjek Percobaan                  : Nurhalimah                                                                         Tempat Percobaan                            : Laboratorium Psikologi Faal

a.      Tujuan Percobaan                : Untuk memahami bahwa cairan
endolimph dan perilimph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorag terganggu, memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah di kembalikan seperti sedia kala, melihat adanya nistagmus
b.      Dasar Teori                           : Kemampuan tubuh untuk
mempertahankan keseimbangan dan kestabilan postur olehaktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan sistem regulasi yangberperan dalam pembentukan keseimbangan. Tujuan dari tubuh mempertahankan keseimbangan adalah : menyanggah tubuh melawan gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar seimbang dengan bidang tumpu, sertamenstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak.  keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural.c.
Sebagian besar masukan (input) proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang menujuke korteks serebri melalui lemniskus medialis dan talamus.Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung padaimpuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat indra tersebut adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum. Impuls dari alat indra ini darireseptor raba di kulit dan jaringan lain , serta otot di proses di korteks menjadi kesadaranakan posisi tubuh dalam ruang.Pada posisi berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi untuk menjaga pusatmassa tubuh (center of body mass) dalam keadaan stabil dengan batas bidang tumpu tidak berubah kecuali tubuh membentuk batas bidang tumpu lain. Bagianvestibular berfungsi sebagai pemberi informasi gerakan dan posisi kepala ke susunan saraf pusat untuk respon sikap dan memberi keputusan tentang perbedaan gambaran visual dangerak yang sebenarnya. Masukan (input) proprioseptor pada sendi, tendon dan otot dari kulitdi telapak kaki juga merupakan hal penting untuk mengatur keseimbangan saat berdiri staticmaupun dinamik Central processing berfungsi untuk memetakan lokasi titik gravitasi, menata responsikap, serta mengorganisasikan respon dengan sensorimotor.
c.       Alat Yang Digunakan           : Manusia
d.      Jalannya Percobaan              : Pertama jalan dengan mata terbuka
lalu balik badan lalu tengokan kepala kekanan dengan mata tertutup lalu jalan setelah sampai lalu balik badan lagi dan tengokkan kepala kekiri dengan mata tertutup lalu rasakan apa yang dirasakan.
e.       Hasil Percobaan                     : Setelah kepala di tengokan kekanan   
dan kekiri terasa ketidak seimbangan. Hasil sebenarnya yaitu   : 1. dalam sikap tubuh biasa dapat berjalan lurus atau tidak mengalami kesulitan. 2. Dalam sikap tubuh dengan muka dibuang kekanan dan kekiri tidak dapat berjalan lurus, biasanya berjalan kekiri atau kekanan.
f.       Kesimpulan                            : Informasi keseimbangan berasal
dari visual, vestibular, dan somatosensori. Dimana50% yang paling berpengaruh pada keseimbangan adalah vestibular. Kompensasi ketikaterjadi pengeliminasian dari isyarat visual (OP memejamkan mata) dan kepala dimiringkandengan kuat ke satu bagian (kanan/kiri) dalam mempertahankan keseimbangan adalahterjadinya kecenderungan adanya deviasi kearah sisi dimana OP memiringkan kepalanya
g.       Daftar Pustaka                      : NN. (2007). Si Penyebab Kepala

 NN. (2009). Gangguan Keseimbangan. http://minepoems.blogspot.com/. 06 Maret 2010.                18.45.

Bagian Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan . 1997 . Buku Pedoman Praktikum Psikologi Fa’al II . Yogyakarta : Fakultas Psikologi Univrsitas Ahmad Dahlan


Nama Percobaan                              : 2. Percobaan Kanalis Semisirkulasi Horizontal           
Nama Subjek Percobaan                 : Nurhalimah                                                                         Tempat Percobaan                           : Labolatiriun Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan                : Untuk memahami bahwa cairan
endolimph dan perilimph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorag terganggu, memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah di kembalikan seperti sedia kala, melihat adanya nistagmus
b.      Dasar Teori                            : Gangguan keseimbangan dapat
diakibatkan oleh gangguan yang mempengaruhi vestibular pathway, serebelum atau sensory pathway pada medula spinalis atau nervus perifer.Gangguan keseimbangan dapat menimbulkan satu atau keduanya dari dua tanda kardinal: vertigo – suatu ilusi tubuh atau pergerakan lingkungan, atau ataxia – inkoordinasi tungkai atau langkah.
Pendekatan diagnosis. Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan orientasi tubuh dan bagian- bagiannya dalam hubungannyag dengan ruang internal. Keseimbangan tergantung pada continous visual, labirintin, dan input somatosensorius (proprioceptif) dan integrasinya dalam batang otak dan serebelum. 
Kanalis Semisirkularis Terdapat 3 buah kanalis semisirkularis : superior, posterior dan lateral yang membentuk sudut 90° satu sama lain. Masing-masing kanal membentuk 2/3 lingkaran, berdiameter antara 0,8 – 1,0 mm dan membesar hampir dua kali lipat pada bagian ampula. Pada vestibulum terdapat 5 muara kanalis semisirkularis dimana kanalis superior dan posterior bersatu membentuk krus kommune sebelum memasuki vestibulum.
Berdiri. Pasien ataksia yang diminta berdiri dengan kedua kaki bersamaan dapat memperlihatkan keengganan atau ketidak mampuan untuk melakukannya. Dengan desakan persisten, pasien secara berangsur-angsur bergerak dengan kaki saling medekat tapi akan meninggalkan ruang antar keduanya. Pasien dengan ataksia sensorik dan beberapa dengan ataksia vesetibular, meskipun pada akhirnya mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya, kompensasi terhadap kehilangan satu sumber input sensorius (proprioceptif atau labyrintin) dengan yang mekanisme lain (yaitu visual).
Melangkah. Langkah terlihat dalam ataksia serebelar dengan dasar-luas, sering dengan keadaan terhuyung-huyung dan dapat diduga sedang mabuk. Osilasi kepala dan trunkus (titubasi) dapat juga ada. Jika lesi hemisfer serebelar unilateral yang bertanggung jawab, maka kecenderungan yang terjadi adalah deviasi kearah sisi lesi saat pasien mencoba untuk berjalan pada garis lurus atau lingkaran atau berbaris pada tempat dengan mata tertutup.
c.       Alat Yang Digunakan           : Manusia
d.      Jalannya Percobaan              : Pertama putar badan kekanan 3 kali
dengan kepal menunduk dan mata tertutup lalu jalan dengan mata terbuka, setelah sampai putar badan  kekiri sebanyak 3 kali dengan mata tertutup dan kepala menunduk lalu jalan dengan mata terbuka.
e.       Hasil Percobaan                     : Setelah kepala di tengokkan
kekanan dan kekiri tersa pusing dan tidak seimbang. Hasil sebenarnya yaitu : 1. Biasanya mengalami kesulitan untuk jalan lurus / normal, karena cairan endorin dan perilin terganggu atau tergejolak. 2. Biasanya tidak terlalu mengalami kesulitan untuk berjalan lurus seperti yang percobaan pertama karena cairan endorin dan perilin normal kembali. 
f.       Kesimpulan                            : Keseimbangan adalah kemampuan
untuk mempertahankan orientasi tubuh dan bagian- bagiannya dalam hubungannyag dengan ruang internal. Keseimbangan tergantung pada continous visual, labirintin, dan input somatosensorius (proprioceptif) dan integrasinya dalam batang otak dan serebelum. Kesulitan berjalan lurus biasa dialami, hal ini dikarenakan cairan endolimph dan perilimph terganggu atau bergejolak. Dan pada saat percobaan kedua tidak terlalu kesulitan berjalan, karena cairan endolimph dan perilimph-nya normal kembali. Jika di putar kedua lebih pusing, maka cairan endolimp dan perilimph baru bekerja.
g.                                                                                                                              g. Daftar Pustaka                  : NN. (2009). Gangguan Keseimbangan                                                                                                  http://minepoems.                                                                                                                        blogspot.com/. 06 Maret 2010. 18.45.
NN. (2007). Si Penyebab Kepala                Berputar. http://www.majalah-                farmacia.com/. 06 Maret 2010. 
16.39.
 
Nama Percobaan                             : 3. Percobaan Nistagmus                                                     Nama Subjek Percobaan               : Nurhalimah                                                                   Tempat Percobaan                           : Labolatiriun Psikologi Faal
a.      Tujuan Percobaan                : Untuk memahami bahwa cairan
endolimph dan perilimph yang terdapat pada telinga bila bergejolak (goyang) akan menyebabkan keseimbangan seseorag terganggu, memahami bahwa keseimbangan yang terganggu mudah di kembalikan seperti sedia kala, melihat adanya nistagmus
b.      Dasar Teori                            : Indra pendengar dan keseimbangan
terdapat di dalam telinga. Telinga manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu
1. Telinga luar, yang menerima gelombang suara.
2. Telinga tengah, dimana gelombang suara dipindahkan dari udara ke tulang dan oleh tulang ke telinga dalam.
3. Telinga dalam, dimana getaran ini diubah menjadi impuls saraf spesifik yang berjalan melalui nervus akustikus ke susunan saraf pusat. Telinga dalam juga mengandung organ vestibuler yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan.
Telinga luar. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna, aurikula), saluran telinga luar (meatus akustikus eksternus) dan selaput gendang (membrane tympani), bagian telinga ini berfungsi untuk menerima dan menyalurkan getaran suara atau gelombang bunyi sehingga menyebabkan bergetarnya membran tympani. Meatus akustikus eksternus terbentang dari telinga luar sampai membrane tympani. Serumen berfungsi menangkap debu dan mencegah infeksi.Pada ujung dalam meatus akustikus eksternus terbentang membrane tympani.
Telinga Tengah (kavum tympanikus). Telinga tengah merupakan suatu rongga kecil dalam tulang pelipis (tulang temporalis) yang berisi tiga tulang pendengaran (osikula), yaitu maleus (tulang martil), inkus (tulang landasan), dan stapes (tulang sanggurdi). Ketiganya saling berhubungan melalui persendian . Tangkai maleus melekat pada permukaan dalam membran tympani, sedangkan bagian kepalanya berhubungan dengan inkus.
Telinga Dalam (labirin). Telinga dalam merupakan struktur yang kompleks, terdiri dari serangkaian rongga-rongga tulang dan saluran membranosa yang berisi cairan. Saluran-saluran membranosa membentuk labirin membranosa dan berisi cairan endolimfe, sedangkan rongga-rongga tulang yang di dalamnya berada labirin membranosa disebut labirin tulang (labirin osseosa). Labirin tulang berisi cairan perilimfe. Rongga yang terisi perilimfe ini merupakan terusan dari rongga subarachnoid selaput otak, sehingga susunanz peri limfe mirip dengan cairan serebrospinal. Labirin membranosa dilekatkan pada periosteum oleh lembaran-lembaran jaringan ikat tipis yang mengandung pembuluh darah. Labirin membranosa sendiri tersusun terutama oleh selapis epitel gepeng dikelilingi oleh jaringan-jaringan ikat. Labirin terdiri atas tiga saluran yang kompleks, yaitu vestibula, kokhlea (rumah siput) dan 3 buah kanalis semisirkularis (saluran setengah lingkaran). Vestibula merupakan rongga di tengah labirin, terletak di belakang kokhlea dan di depan kanalis semisirkularis. Vestibula berhubungan dengan telinga tengah melalui fenesta ovalis (fenestra vestibule). Vestibule bagian membran terdiri dari dua kantung kecil, yaitu sakulus dan utikulus. Pada sakulus dan utikulus terdapat dua struktur khusus yang disebut makula akustika, sebagai indra keseimbangan statis (orientasi tubuh terhadap tarikan gravitasi). Penampang melintang kokhlea menunjukkan bahwa kokhlea terdiri dari tiga saluran yang berisi cairan. Tiga saluran tersebut adalah:
·         Saluran vestibular (skala vestibular): di sebelah atas mengandung perilimfe, berakhir pada tingkap jorong.
·         Saluran tympani (skala tympani): di sebelah bawah mengandung perilimfe berakhir pada tingkap bulat.
·         Saluran kokhlear (skala media): terletak di antara skala vestibular dan skala tympani, mengandung endolimfe.
Mengenal Sistem Keseimbangan. Asal terjadinya vertigo dikarenakan adanya gangguan pada sistem keseimbangan tubuh. Bisa berupa trauma, infeksi, keganasan, metabolik, toksik, vaskular, atau autoimun. Sistem keseimbangan tubuh kita dibagi menjadi 2 yaitu sistem vestibular (pusat dan perifer) serta non vestibular (visual [retina, otot bola mata], dan somatokinetik [kulit, sendi, otot]). Sistem vestibular sentral terletak pada batang otak, serebelum dan serebrum. Sebaliknya, sistem vestibular perifer meliputi labirin dan saraf vestibular. Labirin tersusun dari 3 kanalis semisirkularis dan otolit (sakulus dan utrikulus) yang berperan sebagai reseptor sensori keseimbangan, serta koklea sebagai reseptor sensori pendengaran. Sementara itu, krista pada kanalis semisirkularis mengatur akselerasi angular, seperti gerakan berputar, sedangkan makula pada otolit mengatur akselerasi linear.
Nistagmus adalah gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam telinga.
c.       Alat Yang Digunakan           : Manusia
d.      Jalannya Percobaan              : Tangan kiri memegang telinga
bagian kanan  lalu tangan kanan  memegang lutut bagian kiri pada saat diputar mata tertutup dan pada saat jalan mata terbuka.
e.       Hasil Percobaan                     : Terasa sangat pusing saat di putar
dan pada saat jalan terasa sangat tidak seimbang.
f.       Kesimpulan                            : Untuk menguji keseimbangan,
penderita diminta berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup. Telinga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Bagian luar: Daun telinga, cuping telinga, liang telinga, dan membran thympany.
b. Bagian tengah: Terdiri dari tulang-tulang pendengaran, yaitu: Maleus, Incus, dan Stapes. (MIS).
c. Bagian dalam: Rumah siput (chochlea). Terdapat 2 cairan, yaitu: endolimph dan perilimph yang membuat kita seimbang saat berjalan.
g.      Daftar Pustaka                      :  Murni, A.Y,. (2003). Gangguan
Pendengaran Akibat Bising. http://library.usu.ac.id/. 06 Maret 2010. 19.32.

 NN. (2000). Indera Pendengar. www.free.vlsm.org. 06 Maret 2010. 17.18
NN. (2007). Si Penyebab Kepala Berputar. http://www.majalah farmacia.com/. 06 Maret 2010. 16.39.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar